Perjalanan Manusia

Posted on Updated on


Bahwasanya dunia ini adalah tempat singgah untuk sementara waktu bukan tempat tinggal yg sebenarnya, sedangkan manusia yg didalamnya selaku musafir yg sedang berkelana.

Awal pertama manusia singgah dalam perut ibunya,dan terakhir manusia singgah di liang kubur, manusia masih dalam perjalanan dan yang dituju adalah kampung halaman yang kekal yaitu Akhirat.

Maka tiap-tiap tahun yg telah dilalui oleh umurnya laksana satu perhentian, tiap bulan yg telah lewat adalah selaku istirahat, dan tiap minggu yg dilewatinya selaku suatu kampung yang ditemuinya dalam perjalanan, setiap hari selaku satu pal yg ditempuhnya, setiap detik yg dinafaskannya selaku satu langkah yg dijalani, dan setiap nafas yg dihembuskannya akan mendekatkan dirinya ke pintu akhirat.

Dengan demikian manusia makin dekat ke pintu kubur dan makin renggang dari dunia yang fana ini.

– Kahlil Gibran –

One thought on “Perjalanan Manusia

    ELISABETH KALE MOY said:
    April 1, 2008 at 6:00 am

    Bagiku hidup ini bak jalan tak berujung. Setiap langkah terayun bagaikan tatapan kosong yang tak berarti. Bukan karena tanpa perjuangan ku menjalanihidup ini, tapi aku tidak pernah berhenti berjuang. Saat ini ada kekecewaan besar yang ku alami ; “perjuangan yang sia-sia, nyaris tanpa penghargaan.”benar-benar menyedihkan. Satu hal yang menguatkan ku bahwa Tuhan itu benar-benar ada, Ia menjadikan segala sesuatu indah pada saatnya, dan itu harus melalui jalan-jalan yang begitu sukar. Mungkin kini bukan saatnya bagiku untuk merasakan keindahan itu, yang pasti Tuhan menyediakannya bagiku. Aku juga bersyukur Dia menghadirkan orang-orang yang begitu peduli dengan keberadaanku. Dalam suka maupun duka mereka hadir bersamaku. Terutama kekasih hatiku “Ober”, dengan sederhana ia mencintai dan mengasihiku, dengan sederhana ia peduli dengan keberadaanku, akupun mulai belajar untuk mencintainya dengan cara yang sederhana. Tuhan Engkau baik bagiku.aku mencintai hidup ini dengan sederhana seperti Tuhanku yang hadir ke dunia dengan cara yang begitu sederhna bahkan Ia dipandang hina tapi sesungguhnya begitulah kemuliaan itu dimulai, dengan cara yang paling sederhana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s